Monday, July 1, 2013

Jika Hidup Tidak untuk Dakwah

Jika hidup tidak untuk dakwah
Terus Engkau mau ngapain?
Ente pergi pagi
Dengan semangat mencari duniawi
Jika angkot macet, langsung berganti sewa taxi
Agar harta buruan tidak beralih dari sisi

Ente pulang malam dengan jasad yang kelelahan
Nyampe di rumah mendekam sampai pagi datang
Lupakah engkau
Rasulullah SAW bagaikan rahib di malam hari
Sementara kamu
Tak peduli siang tak peduli malam
Yang penting dunia dalam genggaman

Sahabat, cobalah engkau renungkan
Apa sih yang kau gapai sampai harus membanting tulang
Apa sih yang ingin kau bangun hingga pagi datang
Apa sih yang ingin kau raih hingga tubuh begitu letih

Jujur saja, untuk urusan perutmu bukan?
Buat beli martabak atau nasi
Masuk perut dan kemudian raib menjadi kotoran.

Jujur saja, untuk urusan rumah tempat kau tinggal bukan?
Buat beli keramik, AC atau busa
Dinikmati, rusak, ganti lagi tak berkesudahan.

Jujur saja, untuk urusan kesenangan anak-anak yang kau rindukan bukan?
Buat pakaian, mainan ataupun poster-poster idaman
Dinikmati, menghilang dari pandangan.

Jika Engkau hanya hidup untuk itu semua
Maka harga dirimu
Nilainya sama dengan apa yang kamu makan
Nilainya sama dengan apa yang kamu keluarkan dari perut hitam
Nilainya sama dengan apa yang kau rindukan

Karena jasadmu tak ubahnya tembolok karung
Tempat menyimpan semua makanan yang kau makan
Karena jasadmu tak ubahnya perekat
Tempat semua kesenangan melekat.

Sepekan, setahun, sewindu kau bangun sejuta pundi uang
Engkau lupa bahwa kelak yang kau bangun itu pasti kau tinggalkan
Engkau lupa bahwa tempat tinggalmu sesudahnya adalah istana masa depan.

Tapi sahabat...
Jika Engkau hidup untuk dakwah
Tidak ada setitik harapan pun yang kelak dirugikan
Tiada seberkas amal pun yang tiada mendapat balasan
Tetapi di dalamnya penuh ujian dan batu karang
Dan Engkau harus yakin penuh akan janji Allah
Tapi didalamnya tak lekas kau dapatkan keindahan
Dan Engkau harus yakin bahwa inilah jalan kebaikan.

Sahabat...
Janganlah terlena dengan kesenangan fana
Janganlah terlena dengan gemerlapnya dunia
Itulah yang Allah berikan sebagai hak para musyrikin di dunia
Tidak usah kamu iri dan berfikir ‘tuk hanyut bersamanya
Karena kau tahu kehidupan mereka sesudahnya adalah neraka
Dan mereka kekal didalamnya.

Sahabat...
Jangan sia-siakan hidup di dunia
Bangun rumah dakwah
Jika kau diluaskan harta, kembalikan di jalan dakwah
Jika kau diluaskan waktu, hibahkan dijalan dakwah
Jika kau diluaskan pikiran, gunakan untuk merenungi ayat-ayatNya
Jika kau diluaskan usia, maksimalkan berikan yang terbaik untukNya.
Jangan jadikan dakwah sebagai kegiatan sampingan
Jangan jadikan dakwah sebagai hiburan
Jangan jadikan dakwah sebagai ajang gaul sesama teman
Jangan jadikan dakwah sebagai pengisi waktu luang
Jangan jadikan dakwah sebagai sarana memburu uang
Karena kelak yang kau dapatkan adalah Jahannam
Sebagai balasan atas kemusyrikan yang kau jalankan.

Sahabat...
Jadikan dakwah sebagai ruh kalian di dunia
Jadikan dakwah sebagai rumah tinggal kalian di dunia
Jadikan dakwah sebagai tugas utama kalian di dunia
Jadikan bahwa hanya dengan dakwah diri kalian begitu bahagia
Jadikan bahwa tanpa dakwah, kalian begitu menderita...

Sahabat...
Jalan dakwaj inilah yang membedakan kita dengan para pendusta ayat-ayatNya
Dan jika Engkau hidup di dunia ini tidak untuk tegakkan syariatNya
Itu artinya engkau sama dengan mereka
Yang lebih menyukai neraka ketimbang surga
Dan jika engkau hidup di dunia ini sebagai tujuan
Ingatlah bahwa tak lama lagi ruhmu bakal dicabut dari badan

Jika hidup tidak untuk dakwah, trus ente mo ngapain?
Mau jadi ayam?
Yang pergi pagi pulang petang
Kurang petang tambahin nyampe tengah malam

Tapi masih mendingan ayam
Karena ia rutin bangun sebelum azan
Dan teriakkan lagu keindahan
Tapi kamu...
Rutin subuh setengah delapan
Apalagi kalau akhir pekan
Bisa jadi subuh hengkang dari pikiran

Tapi masih mendingan ayam
Karena ia berani pilih makanan yang ia inginkan
Tapi kamu...
Elo embat semua yang ada di hadapan
Tidak peduli daging, tumbuhan, ataupun batu hitam
Sementara kamu dikarunia pikiran


By: Agus Sujarwo
(Palmerah Bumi Allah, Sya’ban 1423 H)

No comments:

Post a Comment